Saturday, 3 January 2015

reflexivity

Reflexivity

Definition
Reflexivity is an attitude of attending systematically to the context of knowledge construction, especially to the effect of the researcher, at every step of the research process. 
"A researcher's background and position will affect what they choose to investigate, the angle of investigation, the methods judged most adequate for this purpose, the findings considered most appropriate, and the framing and communication of conclusions" (Malterud, 2001, p. 483-484).
The perspective or position of the researcher shapes all research - quantitative, qualitative, even laboratory science.

Beliefs about research bias
There is an assumption among researchers that bias or skewedness in a research study is undesirable.  As Malterud (2001) writes: "Preconceptions are not the same as bias, unless the researcher fails to mention them" (p. 484).
Different researchers will approach a study situation from different positions or perspectives.  This might lead to the development of different, although equally valid, understandings of a particular situation under study. 
While some may see these different ways of knowing as a reliability problem, others feel that these different ways of seeing provide a richer, more developed understanding of complex phenomena.
Understanding something about the position, perspective, beliefs and values of the researcher is an issue in all research, but particularly in qualitative research where the researcher is often constructed as the 'human research instrument.'

Steps to foster reflexivity and reflexive research design
Designing research that includes multiple investigators --  This can foster dialogue, lead to the development of complementary as well as divergent understandings of a study situation and provide a context in which researchers' - often hidden - beliefs, values, perspectives and assumptions can be revealed and contested. 
It is worth noting that the idea of involving multiple investigators in a study and fostering a reflexive dialogue is most often not to reach consensus and foster reliability. 
Develop a reflexive journal (c.f. Lincoln and Guba). -- This is a type of diary where a researcher makes regular entries during the research process.  In these entries, the researcher records methodological decisions and the reasons for them, the logistics of the study, and reflection upon what is happening in terms of one's own values and interests.  Diary keeping of this type is often very private and cathartic.


Report research perspectives, positions, values and beliefs in manuscripts and other publications.  - - Many believe that it is valuable and essential to briefly report in manuscripts, as best as possible, how one's preconceptions, beliefs, values, assumptions and position may have come into play during the research process. 

jUsT sHaRiNg

konstektualisasi

 Kontekstualisasi adalah proses berkesinambungan yang melaluinya kebenaran dan keadilan Allah diterapkan dan muncul dalam situasi-situasi histories yang kongkrit. Kontekstualisasi lebih Holistik artinya mencakup semua aspek konteks manusia dan hubungan antara budaya dan kelompok-kelompok manusia; lebih Global: artinya dapat diterapkan kepada semua kebudayaan; lebih dinamis atinya menerima realitas perubahan social-budaya. (Lih. Pertemuan TEF-1973, oleh DGD).

Kontekstualisasi ditujukan untuk membawa Injil sebagai khabar baik yang sesungguhnya bagi manusia dalam  situasi-situasi kongkrit yang berubah secara cepat. Ada tiga aspek yang harus mendapat perhatian yaitu Krisis iman yang meluas dan pencarian makna kehidupan; masalah-masalah yang mendesak dari perkembangan manusia dan keadilan social; perbedaan diantara peradaban teknologi yang universal dan situasi-situasi budaya dan agama setempat.

Kontekstualisasi dalam Alkitab tertulis dalam Kisah Rasul Pasal 2:4. ITB Acts 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kontekstualisasi digunakan dalam hubungan dengan budaya-budaya yang dengan cepat mengalami perubahan social. Istilah ini menyiratkan usaha untuk memperhitungkan proses sekularisasi, teknologi, dan perjuangan-perjuangan demi keadilan manusia yang dialami oleh bangsa-bangsa di dunia ketiga.

Menurut J. Russel Chandarn, kontekstualisasi bukan suatu latihan intelektual, tugas teologi gereja adalah melibatkan diri, bergumul, dan mengikatkan diri dalam analis social politik dan lain-lain.

Kelopok pemikir Injili melihat tugas kontekstualisasi terbatas pada iman dan komunikasi relevan tanpa mengubah berita ke dalam bahasa dan bentuk kebudayaan. Sebab tugas kontekstualisasi ialah menterjemahkan Injil dalam hubungan dengan situasi histories yang kongkrit.

Sebab itu methode gramatika-histories kuno dan dihormati yaitu mengenai exegesis teks untuk diterima sebagai pokok dalam kontektualisasi; memberi penjelasan dan pengertian apa yang dimaksud para penulis, namun memiliki konteks. Kontekstualisasi yang asli berlangsung ketika terjadi pertemuan antara teks dan konteks. Misalnya konteks dapat memusatkan isu pada kekerasan, sedangkan teks menaikkan isu mengenai dosa dan kuasa setan. Karena teks memiliki wewenang atas konteks dan mengubah, maka pergerakan dialog akan selalu dari teks ke konteks.

Pertemuan berlangsung di dalam ketergantungan kepada Roh Kudus. Roh Kudus merupakan kunci yang menjelaskan hubungan teks dan konteks. Perbentangan ini didasarkan atas keyakinan bahwa Roh Kudus memberi kejelasan dan jaminan dari teks dalam hubungannya dengan tiap-tiap situasi manusia.

Kaum Injili mengakui bahwa kontekstualisasi yang sah hanya menerima dengan terus terang kesetiaan sikap sebagai murid Kristus yaitu loyal dan setia kepada Yesus Kristus sebagai juruselamat dan Tuhan atas segala yang hidup, segala pribadi, dan semua masyarakat dan kesetiaan kepada Injil-Nya. Kontekstualisasi yang benar menuntut kesanggupan bagi gereja sebagai umat Allah, yang memuja Tuhan, juga dipanggil untuk menaati tugas pelayanan, terutama bagi kaum miskin dan untuk memproklamasikan kepada semua orang keselamatan dalam Kristus.

Penafsiran terhadap teks merupakan tugas gereja. Semua orang Kristen dan Roh Kudus memperjelas teks. Gereja adalah lapisan dimana kontekstualisasi berlangsung. Gereja adalah tubuh Kristus dengan keaneka-ragam karunia dari Roh Kudus memastikan proses yang dinamis ini berlangsung.

Kontekstualisasi yang benar menentang segala bahaya sinkritisme. Tetapi bukan kelesuan atau ketakutan, melainkan kesediaan untuk menanggung resiko dan kesanggupan untuk mencapai tujuan misiological memungkinkan komunikator mengalahkan ketakutan ini. Roh Kudus sebagai komunikator Ilahi adalah pelopor dari pemenuhan tugas ini.

Dalam hubungan dialog antara teks Alkitab dan seluruh bentuk konteks manusia, gereja  terikat terhadap pembinasaan mereka. Meskipun  semua kebudayaan dicemari dosa masih mencerminkan kebenaran dan kemolekan dari wahyu umum Tuhan. Tetapi  yang harmonis dengan hukum Tuhan tetap  harus dibersihkan, diubah, dan ditaruh dibawah kuasa Kristus.

Kontekstualisasi memuncak pada Khabar Baik yang menerobos tiap-tiap situasi  yaitu penebusan dari dosa, kesalahan dan pembebasan dari kuasa setan, pembebasan dari keputusasaan, ketidakadilan dan perwujudannya merupakan suatu tugas sentral gereja di dalam misinya dalam dunia  (bnd. NDT, 1991: 165-167).

jUsT sHaRiNg

apa itu metodologi

Rumusan maksud metodologi
1. Metodologi penyelidikan merupakan kaedah dan teknik mereka-bentuk, mengumpul dan menganalis data supaya dapat menghasilkan bukti yang boleh menyokong sesuatu kajian ( merumuskan apa yang dikaji).
2. Metodologi menerangkan cara sesuatu masalah yang dikaji dan sebab sesuatu kaedah dan teknik tertentu digunakan.
3. Tujuan metodologi ialah untuk membantu memahami dengan lebih luas ( terperinci) lagi tentang pengaplikasian kaedah dengan membuat huraian tentang proses kajian.

jUsT sHaRiNg

apa itu masyarakat?

KONSEP MASYARAKAT
• Masyarakat boleh juga didefinisikan sebagai kumpulan manusia yang hidup bersama-sama di sesuatu tempat dengan aturan dan cara tertentu.

Keperluan Mengkaji Masyarakat

 
1. Manusia Hidup Bermasyarakat
Perlakuan seseorang itu adalah berkaitan dengan masyarakatnya. Oleh itu, seseorang yang menghormati orang laian atau rajin bekerja dicermin dan mencerminkan masyarakatnya. Kegigihan individu Jepun dikaitkan dengan kegigihan masyarakatnya. Maka, kajian terhadap masyarakat itu menjadi penting kerana melaluinya, kita dapat memahami manusia secara keseluruhan.

2. Memahami Cara Hidup Bermasyarakat
Pemahaman yang tepat terhadap masyarakat membolehkan individu itu bertingkahlaku dan menyesuaikan diri mengikut kehendak masyarakat setempat. Iini akan mewujudkan keharmonian dalam masyarakat dan sukar untuk melanggar peraturan yang wujud di dalam lingkungan sosialnya.

3. Memahami Budaya dan Masyarakat Lain
Individu yang telah mengkaji masyarakat lain tidak akan mengalami satu kejutan budaya, tetapi lebih bersedia menghadapi perbezaan yang wujud.seseorang yang mengkaji masyarakat industri tidak akan terkejut jika pergi ke negara tersebut.

4. Memupuk Kerjasama di Antara Masyarakat
Perhubungan masa kini bukan hanya terbatas di kalangan satu masyarakat sahaja tetapi merangkumi masyarakat dunia keseluruhannya. Bagi mengatasi isu-isu global seperti pencemaran, teknologi, perlumbaan senjata dan sebagainya, memerlukan kerjasama antara masyarakat. Maka, kajian terhadap masyarakat akan membolehkan kita memahami dan memupuk kerjasama dengan sesuatu masyarakat.

Ciri-Ciri Masyarakat

 
1.Manusia Yang Hidup Berkelompok
Manusia ialah mereka hidup bersama dan membentuk kelompok. Kelompok ini lah yang membentuk masyarakat. Mereka mengenali antara satu sama lain dan saling bergantungan. Kesatuan sosial wujud dalam perhubungan sesama manusia ini. Seseorang manusia tidak mungkin dapat meneruskan hidupnya tanpa bergantung kepada manusia lain.

2.Melahirkan Kebudayaan
Tiada masyarakat, tiadalah budaya dan sebaliknya. Masyarakat akan melahirkan kebudayaan, sama ada kebendaan atau bukan kebendaan. Budaya itu pula diwarisi dari generasi ke generassi berikutnya dnegan proses penyesuaian.

3.Mengalami Perubahan
Sebagaimana budaya, masyarakat juga turut mengalami perubahan. Suatu perubahan terjadi kerana faktor-faktor yang berasal dari masyarakat itu snediri. Sebagai contoh, suatu penemuan baru mungkin akan mengakibatkan perubahan kepada masyarakat itu.

4.Berinteraksi
Salah satu syarat kewujudan massyarakat ialaah terdapatnya perlakuan berhubung dan bekerjasama di antara ahli dan ini akan mencetuskan interaksi. Interaksi ini boleh berlaku secara lisan atau tidak lisan.komunikasi berlaku apabila masyarakat bertemu di antara satu sama lain.

5,Terdapat Kepimpinan
Pemimpin adalah terdiri daripada ketua keluarga, ketua kampung, ketua negara dan sebagainya. Dalam masyarakat Melayu awal, kepimpinan adalah bercorak tertutup kerana pemilihan berdasarkan keturunan.

6.Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial meletakkan seseorang pada kedudukan dan peranan yang harus dimainkannya atau merujuk kepada susunlapis masyarakat. Stratifikasi sosial boleh dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu kelas, status dan kasta. Kelas ialah kedudukan seseorang dalam masyarakat berdasaarkan pemilikan harta atau kekayaan seperti orang kaya kelas atasan dan orang miskin, kelas bawahan

Status ialah jangkaan peranan yang dimainkan oleh individu dalam masyarakat seperti penerimaan gelaran iaitu haji, lebai, dato' dan sebagainya. Kasta ialah kelas sosial yang keahlinya ditentukan hanya melalui kelahiran dan dalam hidupnya tidak berlaku mobiliti sosial. Ini dapat dilihat dalam zaman tradisional India yang memecahkan kasta kepada Brahmin, Ksyatria, Vaisya dan Sundra

jUsT sHaRiNg

ethno - budaya

KONSEP BUDAYA
 
Definisi: Budaya biasanya dikaitkan dengan aktiviti-aktiviti yang ada dalam persekitaran manusia seperti kesenian, barangan, makanan, tarian dan sebagainya.

Budaya boleh dibahagikan kepada dua lapangan besar iaitu
• Budaya kebendaan
• Budaya bukan kebendaan

Budaya kebendaan ialah peralatan dan kelengkapan hidup seperti rumah, kereta, perahu, senjata dan sebagainya, Contohnya, orang Melayu mempunyai rumah yang berbeza dengan orang Inggeris atau orang Eskimo
Budaya bukan kebendaan ialah kepercayaan, adat istiadat dan undang-undang. Contohnya, setiap masyarakat mempunyai adat istiadat yang berbeza-beza dalam menjalani kehidupan seperti perkahwinan masyarakat Melayu yang mana pihak lelaki yang memberi hantaran kepada pihak perempuan manakala, bagi masyarakat India, hantaran(dowri) perkahwinan diberi oleh pihak perempuan kepada pihak lelaki.
Dalam budaya Melayu, faktor agama paling penting kerana agamalah dasar tanggapan terhadap alam sekitar dari segi sosial dan fizikal. Bahasa juga penting sebagai alat komunikasi dan adat resam juga mustahak sebagai petunjuk jalan bagi seseorang dalam mengendalikan hidupnya bermasyarakat dan berbudaya.

Dua peranan utama bagi pembentukan sesuatu budaya
• Pertama, membina imej negara ke arah mewujudkan keperibadian dan identiti
• Kedua ialah pemupukan kesedaran kebangsaan dan kenegaraan berasaskan ciri-ciri kerohanian, kemanusiaan, spiritual dan mental.( Tamadun Melayu Dan Pembinaan Bangsa Melayu, 1992).

Kalau sesuatu kelompok manusia hidup dalam lingkungan yang dikenali sebagai ‘budaya’ dan budaya ini memberikan identiti kepada kelompok itu dari segi cara ia mengendalikan hidupnya. Budaya turut diwarisi dari satu keturunan kepada satu keturunan yang lain. Dari itu, budaya boleh dikatakan sebagai satu himpunan kelengkapan intelektual dan kebendaan yang dapat memenuhi kehendak biologi dan kemasyarakatan serta dapat menyesuaikannya dengan keadaan sekeliling.

Ciri-Ciri Budaya
• Kebudayaan mempunyai ciri-ciri tertentu yang menggambarkan budaya itu terbit daripada tingkahlaku dan akal manusia :

*Dipelajari
Dalam proses mempelajari, banyak unsur terlibat seperti proses asimilasi, adaptasi, Budaya tidak lahir secara langsung tetapi perlu dipelajari. Manusia perlu belajar untuk menguasai ilmu. Untuk mencipta sesuatu, manusia perlu belajar. Sebagai contoh menunjukkan budaya itu dipelajari, kanak-kanak perlu diajar oleh ibu bapanya untuk berbahasa dan berhubung.

Apakah bentuk dan jenis pembelajaran anggota masyarakat bergantung kepada beberapa faktor iaitu:
a. Apakah agen-agen sosialisasi seperti keluarga, jiran, sekolah, institusi latihan dan sebagainya.
b. Apakah nilai yang mendapat keutamaan dalam sesebuah masyarakat itu.
c. Umur seseorang.
d. Tahap pendidikan
e. Situasi sesuatu peristiwa itu berlaku.

*Dikongsi
Budaya itu dikongsi oleh manusia yang menjadi anggota masyarakat. Perkongsian ini bermaksud yang setiap perlakuan itu diramal dan didokong oleh sekumpulan mansuia. Nasi lemak dan roti canai menjadi budaya keranan masyaarakat menggemarinyabahasa Melayu adalah kebudayaan rakyat Malaysia kerana dituturkan oleh mereka dalam kehidupan seharian. Perlakuan yang tidak dikongsi oleh sekumpulan manusia tidak termasuk dalam budaya seperti perlakuan mencuri walaupun ia wujud dalam masyarakat. Tanpa perkongsian, ia hanya menjadi perlakuan individu dan bukannya perlakuan masyarakat.

*Sejagat
Budaya itu bersifat sejagat. Kesejagatan budaya ialah kebudayaan itu wujud dalam semua kelompok manusia. Tidaak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Walaubagaimanapun, budaya yang sejagat itu berbeza antara masyarakat kerana faktor pengaruh alam, pengaruh luar dan tahap penyesuaian anggota.

Clyde Kluckhohn mengesan tujuh unsur yang terdapat dalam semua budaya iaitu:
i. peralatan dan kelengkapan hidup manusia.
ii. mata pencarian hidup dan sistem ekonomi.
iii. sistem sosial.
iv. bahasa
v. kesenian
vi. sistem pengetahuan.
vii. agama dan kepercayaan.
(Budaya dan tamadun sinonim terutama dalam tradisi keilmuan Barat; eg. Hutington etc.)

*Diwarisi
Budaya itu diwarisi dari satu generasi ke satu generasi berikutnya. Ini bermakna bahawa budaya Melayu, cina dan India yang diamalkan hari ini adalaah lanjutan daripada budaya terdahulu. Peristiwa yang telah berlaku akan memberi kesan kepada hari ini. Budaya itu juga diwarisi juga membawa maksud bersambung. Teknologi yang dihasilkan hari ini adalah hasil teknologi awal manusia masa lampau.

*Berubah
Budaya sentiasa berubah dan tidak ada budaya yang wujud dari dahulu hingga sekarang tidak mengamali perubahan. Perubahan ini dikaji daripada perubahan bentuk, ciri dan proses yang berlaku.rumah beratap genting telah digantikan dengan rumah beratap rumbia. Dalam sejarah tamadun manusia, perubahan budaya bukan kebendaan dapat dilihat dengan jelas seperti perubahan sistem ekonomi sara diri kepada ekonomi kapitalis. Namun, perubahan budaya kebendaan lebih cepat berubah.

•Perubahan ini disebabkan beberapa faktor seperti:
• i. pertambahan bilangan anggota masyarakat.
• ii. pertambahan keperluan dan keinginan manusia.
• iii. penemuan dan penciptaan teknologi baru.
• iv. pertembungan budaya.
• v. konflik yang berlaku.
• vi. perubahan alam sekitar.

*Perlambanggan
Perlambangan ini ialah sebagai satu lambang dalam budaya yang memberikan makna tertentu kepada pendokongnya seperti bendera, warna, logo, lambaian tangan dan sebagainya. Perlambangan yang wujud turut membantu manusia berhubung dan berkomunikasi sesama mereka seperti isyarat memanggil.

*Pandangan Semesta
Pandangan semesta ialah bagaimana manusia memberikan tafsiran terhadap keadaan alam sekeliling ke dalam kehidupan seharian. Pandnagan semesta ini timbul kerana manusia mempunyai pertalian yang rapat dengan alam sekitarnya. Pertalian yang erat ini pula diterjemahkan dalam kehidupan seharian seperti simpulan bahasa (seperti aur dengan tebing, ukuran (sehasta, sepelaung), tempoh masa (setanak nasi) dan sebagainya.

Fungsi Budaya Dalam Kehidupan
Budaya dalam pengertian biasa ialah satu cara hidup manusia dan membawa makna yang sangat luas. Dengan prinsip bahawa budaya itu dicipta manusia, maka budaya itu diperlu dan dihasilkan oleh manusia itu sendiri bagi keperluan hidup.

1.Memenuhi dan Menyediakan Keperluan
Semua manusia memerlukan keperluan asasi untuk terus hidup. Oleh yang demikian, manusia menggunakan air untuk kegunaan pertanian, kayu-kayan untuk pembinaan rumah dan sebagainya. Keutamaan pengeluaran produk bergantung kepada keutamaan keperluan dan aktiviti oleh masyarakat. Sebagai contoh, jika masyarakat itu mewrisi ilmu pelayaran, maka akan dibina kapal

2.Sebagai Panduan kepada Anggota Masyarakat dalam Bertingkahlaku
Kepercayaan adalah unsur sejagat budaya yang sebati dengan kehidupan manusia. Manusia memperolehi keperluannya hasil dari tuntutan daripada agama. Budaya mempunyai peranan memberikan panduan kepada anggota masyarakat dalam bertingkahlaku dalam memberikan panduan, meliputi:
•i. perlakuan yang diboleh dan tidak dibolehkan.
•ii. perlakuan yang patut dan tidak patut.
•iii. perlakuan yang digalakkan dan tidak digalakkan.

3.Mengatur Hubungan Sesama Manusia
Dalam masyarakat Malaysia, budaya mendidik kita agar menghormati jiran, tetamu dan sahabat. Dalam masa yang sama kita dilarang menyakitkan hati rakan sesuai dengan ajaran Islam. Ini bermakna dalam menjalani kehidupan seharian, kebudayaan memainkan peranan mengatur hubungan sesama manusia.

4.Sebagai Penggalak Kepada Manusia Untuk Mencipta
Alam fizikal yang berbeza menghasilkan keperluan manusia yang berbeza. Orang Eskimo memerlukan baju tebal. Maka, dengan adanya budaya ini, ia sebagai pendorong kepada penciptaan bagi memenuhi keperluan harian dan memudahkan segala urusan.

5. Sebagai Alat Penyatuan dan Pengenalan Identiti
Budaya berperanan sebagai alat penyatuan dan pengenaalan identiti. Sesuatu bangsa dikenali bukan sahaja dari segi fizikalnya, lebih lagi dari budayanya. Kita mengenali Jepun bukan sahaja dari segi fizikalnya, tetapi mereka adalah bangsa yang berjaya dalam ekonomi dan perindustrian.manusia juga akan bersatu apabila anggota masyarakat mengamalkan semangat kekitaan dan saling bekerja sama bagi mencapai sesuatu.

jUsT sHaRiNg

kajian kuantitatif dan kualitatif

KAJIAN KUANTITATIF

Kajian kuantitatif adalah kajian yang menggunakan maklumat / data yang bersifat kuantitatif. Data kuantitatif boleh diukur, melalui proses pengukuran dan memerlukan alat-alat pengukuran seperti soal selidik dan ujian. Saiz sampel bagi kajian ini lebih besar berbanding kajian kualitatif.

Jenis-jenis kajian kuantitatif:
i) Kajian Deskriptif
ii) Kajian Korelasi
iii) Causal Comparative
iv) Kajian Eksperimental


KAJIAN KUALITATIF

Kajian kualitatif adalah kajian yang menggunakan maklumat / data yang bersifat kualitatif. Data kualitatif diperoleh dengan cara pemerhatian, temubual, analisis dokumen atau apa-apa cara untuk mendapatkan data yang lengkap. Saiz sampel bagi kajian ini lebih kecilberbanding kajian kualitatif.

Jenis-jenis kajian kualitatif:
i) Kajian Tindakan
ii) Kajian Kes
iii) Kajian Lapangan
iv) Analisis Dokumen






PERBEZAAN DI ANTARA KAJIAN KUANTITATIF DAN KAJIAN KUALITATIF

i) Bentuk Data

KAJIAN KUANTITATIF
KAJIAN KUALITATIF
Data berbentuk angka yang boleh diukur.
Data berbentuk perkataan atau ayat yang dikumpul melalui temubual atau yang direkod dalam bentuk gambar atau video.

ii) Instrumen Kajian

KAJIAN KUANTITATIF
KAJIAN KUALITATIF
Penyelidik menggunakan instrument seperti soal selidik dan ujian pencapaian bagi memungut data. Instrumen berfungsi sebagai alat pengukur dan menjadi alat perantaraan antara penyelidik dan peserta kajian.
Penyelidik adalah instrumen utama memungut data. Penyelidik perlu berada dalam situasi yang dikaji, mendengar dan memerhati sendiri fenomena yang ingin dikaji.

iii) Reka bentuk Kajian

KAJIAN KUANTITATIF
KAJIAN KUALITATIF
Reka bentuk ditetapkan sebelum data dipungut.
Reka bentuk bersifat mudah lentur / fleksibel, boleh diubahsuai mengikut keadaan dan keperluan situasi.

iv) Peserta Kajian

KAJIAN KUANTITATIF
KAJIAN KUALITATIF
Penyelidik bukan peserta kajian. Peserta kajian adalah sampel yang dipilih dengan menggunakan teknik persampelan tertentu.
Penyelidik adalah sebahagian daripada peserta kajian. Maklumat kajian diperoleh secara langsung daripada peserta kajian.

v) Metodologi Kajian

KAJIAN KUANTITATIF
KAJIAN KUALITATIF
Penyelidik mengkaji populasi atau sampel yang mewakili populasi. Saiz sampel besar dan dipilih berasaskan kebarangkalian.
Saiz sampel kecil dan dipilih secara bertujuan dan tidak berasaskan kebarangkalian.


KAJIAN GABUNGAN (MIXED-METHOD)

Kajian gabungan pula merupakan kajian yang menggabungkan kaedah kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh juga menggunakan data kuantitatif dan data kualitatif.


jUsT sHaRiNg

emik dan etik

Emik dan Etik adalah dua macam sudut pandang dalam etnografi yang cukup mengundang perdebatan. Emik (native point of view) misalnya, cuba menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang masyarakat itu sendiri. Sebaliknya, etik merupakan penggunaan sudut pandang orang luar yang berjarak (dalam hal ini peneliti) untuk menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat.
Dalam etnografi, peneliti memang diharuskan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang menjadi objeknya untuk masa yang cukup lama. Di sana dia akan mengamati apa yang terjadi, mendengar apa yang dikatakan orang-orang, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data  dan menjelaskan masalah yang menjadi perhatiannya.
Dari definisi di atas, wajar bila terjadi kesulitan untuk menentukan point of view  harus digunakan. Kerana memang keduanya tak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Akan tetapi merujuk pada Boas, bahwa “Sekiranya kita benar-benar bertujuan untuk memahami pemikiran manusia, maka seluruh analisa pengalaman mestilah diasaskan pada konsep mereka dan bukannya konsep kita.” James Lull juga menegaskan bahwa salah satu tanggungjawab dari peneliti etnografi adalah melakukan semua risetnya dalam setting yang  (natural), dimana tempat perilaku itu berlangsung. Dari berbagai pertimbangan itulah, sebagian besar antropologi sangat menyarankan peneliti untuk menggunakan pendekatan ‘emik’ dan ‘etik’. maksudnya peneliti tetaplah include dalam kehidupan masyarakat objeknya, namun dia harus menganalisis sebanyak mungkin pandangan etiknya terhadap masyarakat tersebut.
Pendekatan emik dalam hal ini memang menawarkan sesuatu yang lebih obyektif. Karena tingkah laku kebudayaan memang sebaiknya dikaji dan dikategorikan menurut pandangan orang yang dikaji itu sendiri, berupa definisi yang diberikan oleh masyarakat yang mengalami peristiwa itu sendiri. Bahwa pengkonsepan seperti itu perlu dilakukan dan ditemukan dengan cara menganalisis proses kognitif masyarakat yang dikaji dan bukan dipaksakan secara etnosentrik, menurut pandangan peneliti.
Contoh kasus:
Pada sebuah fenomena masyarakat seperti pengemis. Bila perilaku pengemis disebut sebagai sebuah fakta sosial. Maka berlaku sebutan: pengemis adalah sampah masyarakat, manusia tertindas, manusia yang perlu dikasihani, manusia kalah,, dsb. Anggapan ini bukan sebuah kesalahan berpikir, melainkan sebuah sudut pandang etik orang di luar pengemis untuk menunjukkan fakta yang semestinya berlaku seperti itu, bukan pandangan emik, bagaimana pengemis melihat dirinya sendiri.
Dalam pandangan emik yang bersifat interpretif atau fenomenologis, pengemis adalah subjek. Mereka adalah aktor kehidupan yang memiliki hasrat dan kehidupan sendiri yang unik. Pandangan subjektif seperti ini diperlukan untuk mengimbangi pandangan obyektif yang seringkali justru memojokkan mereka, melihat mereka sebagai korban kehidupan,  atau ketidakadilan sosial, bukan sebagai entitas masyarakat yang memiliki pemikiran dan pengalaman hidup yang mereka rasakan dan alami sendiri.

jUsT sHaRiNg

Elsa - Disney's Frozen